Semua tulisan di blog ini

Semua tulisan di blog ini
Semua tulisan di blog ini bukan menganjurkan untuk membeli/menjual saham/obyek trading Anda, Semua keputusan ada di tangan Anda karena itu berhati-hatilah dalam melakukan trading dan investasi.

Jumat, 08 Januari 2016

IHSG 8 Januari 2016

Subuh tadi Indeks Dow Jones ditutup di level 16,514.10 turun 392.41 poin (-2.32%). EIDO ditutup di level 20.30 melemah 0.66 poin (-3.15%).

Kemarin IHSG ditutup di level 4,530.45 melemah 78.53 poin (-1.70%). IHSG hari ini berpotensi terkoreksi dengan menguji suport 4525 dan 4460.


Semakin baiknya perekonomian di Amerika dan Eropa tidak membuat pasar sahamnya kebal terhadap crash dari Tiongkok.


Pasar saham Amerika ditutup turun drastis dikarenakan anjloknya pasar saham China dan juga harga minyak yang kembali turun.


Investor mengantisipasi perlambatan data manufaktur China akan berdampak pada kinerja perusahaan AS yang berhubungan dengan China.


Hari ini pasar saham Amerika juga menanti data pengangguran / NFP (Non Farm Payroll) yang dirilis setiap Jumat pada pekan pertama.


George Soros mengatakan dalam sebuah forum ekonomi di Sri Lanka mengatakan bahwa situasi saat ini mirip dengan crash di tahun 2008. Soros mengatakan bahwa pasar akan menghadapi sebuah krisis dan investor harus lebih waspada dan hati2 lagi.


Meskipun kondisi pasar dari dalam negeri dan AS membaik, namun kondisi di China menimbulkan sebuah ketidakpastian di tahun 2016 ini.

Kamis, 07 Januari 2016

IHSG 7 Januari 2016

Semalam Indeks Dow Jones ditutup di level 16,906.51 melemah 252.15 poin (-1.47%). EIDO ditutup di level 20.96 melemah 0.08 poin (-0.38%)

IHSG ditutup di level 4,608.98 menguat 51.16 poin (+1.12%) dengan resisten 4700 dan suport 4525.

Kemarin pasar kembali ditutup menguat dengan nett buy asing semakin besar yaitu mencapai Rp385,01 miliar.

Beberapa sentimen positif dari dalam negeri yang mendongkrak IHSG adalah potensi penurunan suku bunga mengingat inflasi yang cukup rendah.

Inflasi tahun kemarin 3.35% terendah dalam 5 tahun terakhir. Penurunan BI rate akan mendongkrak capital inflow untuk investasi.

Tahun lalu pemerintah sempat menunda penurunan BI Rate dikarenakan pelemahan rupiah yang cukup tajam.

Jika rupiah semakin melemah karena penurunan BI Rate maka hal itu dapat menggerus cadangan devisa negara.

Sentimen positif lain dari dalam negeri adalah naiknya indeks tingkat kepercayaan konsumen yang mendorong dana asing masuk ke Indonesia.

Tingkat kepercayaan konsumen Indonesia melonjak menjadi 107,5 dari sebelumnya 103,7 lebih baik dari ekspektasi yaitu di level 102,5.

Penurunan harga BBM dan juga serapan anggaran pemerintah yang cukup terserap sempurna juga merupakan sentimen positif.

Tetap waspadai sentimen dari global seperti kondisi ekonomi di China dan pada tanggal 8 Januari investor China mulai boleh menjual sahamnya.

Seperti yang telah diketahui pemerintah China sempat melarang investor di China menjual saham tertentu pada 2015 untuk menahan turunnya harga saham.

Turunnya harga minyak juga harus diwaspadai karena dapat berdampak pada turunnya pendapatan pemerintah.

Dari sektor perbankan cermati data mengenai kredit macet karena perlambatan perekonomian 2015.

Jika perekonomian 2016 membaik maka data kredit macet tahun ini pun juga akan cenderung berkurang.


Setelah 2 hari menguat, hari ini pasar berpotensi mengalami terkoreksi / profit taking jangka pendek, jangka menengah masih sinyal positif.

Rabu, 06 Januari 2016

IHSG 6 Januari 2016


Tadi malam Indeks Dow Jones ditutup di level 17,158.66 menguat 9.72 poin (+0.06%).

IHSG ditutup di level 4,557.82 menguat 31.90 poin (+0.70%), tertahan oleh suport 4525, berpotensi melanjutkan penguatan hari ini.

2 hari perdagangan di tahun 2016 ini investor asing membukukan net sell yang meski jumlahnya masih belum signifikan / kecil.

Investor asing & lokal masih menunggu sentimen positif internal yaitu potensi turunnya suku bunga, serapan anggaran, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sentimen negatif dari eksternal yaitu buruknya data manufaktur China dan ketegangan Timur Tengah akan mewarnai fluktuasi.

Namun investor cenderung akan lebih fokus pada fundamental internal dalam negeri yang menjadi penentu arah ekonomi Indonesia pd khususnya.

Meski bursa regional terjun sehari sebelumnya, bursa Indonesia mengalami anomali kemarin.

Tahun 2016 sektor perbankan, consumer, konstruksi dan infrastruktur layak dipilih untuk portofolio investasi. 

Outlook US & Global 6 Januari 2016

  •    Euro Berpotensi Semakin Tertekan. Euro kembali melemah terhadap Dollar AS setelah data inflasi untuk zona Euro mengindikasikan pereknomian masih kesulitan mengatasi kondisi yang dinilai bank sentral sebagai inflasi rendah yang tidak bisa diterima. Euro semakin tertekan setelah harga konsumen lebih rendah dari prediksi para analis. Laporan ini menjadi pukul kedua pada blok setelah harga konsumen di perekonomian terbesar zona Euro, Jerman, secara tidak terduga negatif di bulan Desember. Inflasi zona Euro masih jauh di bawah target inflasi European Central bank yaitu sedikit dibawah 2% dan dapat menambahkan tekanan pada bank untuk kembali meningkatkan stimulus moneter. Kebijakan pelonggaran moneter tersebut biasanya membuat mata uangnya menjadi kurang menarik.
  • Yen menguat terhadap seluruhpasangan mata uang utamanya seiring kehati-hatian investor bertransaksi dalam aset berisiko, kondisi yang oleh beberapa pelaku pasar dinilai sebagai preferen selektif untuk risiko. Pasar saham Eropa dan AS berfluktuasi sementara perdagangan minyak masih negatif. Situasi di Timur Tengah masih belum stabil dan Euro juga kewalahan dengan kekecewaan investor pada laporan inflasi bulan Desember yang mengecewakan, dua faktor yang memberikan ruang bagi safe-haven Yen untuk mendominasi pasar mata uang. Investor juga mengabaikan komentar dovish Gubernur Bank of Japan (BoJ) yang mengatakan kesiapannya untuk mengambil langkah tegas jika diperlukan untuk memasikan inflasi mencapai target harga 2% bank sentral.
  • Sterling ambruk ke dekat level rendah 9-bulan terhadap dollar pada hari Selasa, dengan hasil bullish pada PMI sektor konstruksi gagal menopang ekspektasi kenaikan suku bunga dalam tahun yang didominasi oleh demat mengenai "Brexit" dari Eropa. Terhadap mata uang lainnya, sterling masih diperdagangkan flat, melemah 0.2% terhadap dollar dan menguat sekitar 0.2% juga terhadap euro, setelah anjlok tajam pada hari Senin, sesi perdagangan pertama tahun ini. Indeks PMI sektor konstruksi melonjak menjadi 57.8 di bulan Desember, jauh di atas level 50 yang memisahkan ekspansidan kontraksi dan dibanding estimasi pada 56.0. Data tersebut sempat mendorong sterling menguat namun secara keseluruhan trend masih bearish dengan banyak bank-bank merekomendasikan untuk menjual poun tahun ini pasca munculnya isu terkait Brexit di bulan Desember.
  •   Laju inflasi di zona euro bertumbuh lebih lambat dari ekspektasi di bulan Desember, menambah tekanan pada European Central Bankuntuk kembali melonggarkan lebih lanjut kebijakan moneternya setelah meluncurkan stimulus yang minim bulan lalu. Eurostat, mengatakan laju inflasi konsumen di zona euro naik sebanyak 0.2% untuk tingkat tahunan bulan lalu, dibanding ekspektasi pasar untuk kenaikan sebesar 0.3%. Di luar komponen yang volatile, makanan mentah dan energi, CPI into bertumbuh 0.8% dalam tingkat tahunan, di bawah ekspektasi sebesar 0.9% dan melambat dari laju sebesar 0.9% pada bulan sebelumnya. ECB ingin mempertahankan laju inflasi
  • Pasar saham Asia kesulitan untuk bertahan di zona hijau pada hari Selasa meskipun fluktuasi saham China telah cenderung menyusut, dengan pergerakan yang lebih liar masih mungkin terjadi di tengah prospek pertumbuhan ekonomi global dan suku bunga yang tidak menentu. Indeks Shanghai Composite ditutup turun 0,26% dalam sesi volatile, bahkan setelah People's Bank of China menyuntikkan likuiditas ke pasar domestik untuk menjaga biaya pinjaman tetap rendah. Di Hong Kong, indeks Hang Seng menghapus keuntungan di sesi pagi untuk kemudian turun 0,6%. Di Jepang,indeks Nikkei 225 ditutup 0,42% lebih rendah setelah sempat bergerak di antara teritori positif dan negatif. Mayoritas blue-chip Jepang diperdagangkan melemah, dengan saham-saham seperti Toyota dan Honda kehilangan lebih dari 1,5%. Di Korea Selatan, indeks KOSPI terapresiasi 0,61% seiring saham Samsung Electronics berbalik menguat 0,25%.
  • Bursa saham Eropa menguat pada hari Selasa, sentimen investor mulai pulih pasca kemerosotan bursa di awal pekan yang akibat bursa China yang kembali bergejolak. Guna menenangkan pasar, People's Bank of China menyuntikkan 130 milyar yuan ($19,9 milyar) sebagai pinjaman jangka pendek ke sistem finansial ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Data dari zona euro hari ini menunjukkan inflasi tahunan naik 0,2% di bulan Desember, tidak berubah dari bulan sebelumnya, namun di bawah estimasi ekonom. Tingkat pengangguran Jerman tetap sebesar 6,3% di bulan Desember, ataulevel terendah dalam 24 tahun terakhir, sedangkan klaim tunjangan pengangguran turun lebih besar dari perkiraan. Pasar tenaga kerja Jerman merupakan yang terkuat di zona euro. Indeks DAX 30 Jerman dan CAC 40 Prancis masing-masing menguat 0,3% menjadi 10.310,10, dan 4.537,63. Sementara FTSE 100 Inggris naik 0,7% menjadi 6.137,24.
  • Bursa saham AS berjangka merosot di hari Selasa seiring ketegangan para investor paska aksi sell off tajam. Indeks Dow Jones berbalik dari penguatansebelumnya, merosot 95 point, sementara indeks S&P500 masih dalam jalur pelemahan 4 hari berturut-turut, yang sekaligus merupakan kejatuhan terpanjang dalam 2 bulan terakhir. Saham sektor energi menunjukkan performa terburuk di hari Selasa, seiring kejatuhan harga minyak mentah dunia. Sementara bursa di Asia ditutup melemah meski otoritas China berupaya mengambil langkah meredakan kekhawatiran para investor. Kejatuhan tajam hingga 7 persen di bursa China hari Senin lalu telah memicu circuit breaker yang memaksa penutupan bursa dan menimbulkan kekacauan bursa dunia. Awal tahun 2016 yang menunjukkan pergerakan fluktuatif kembali mengingatkan para pelaku pasar akan potensi pergerakan yang volatile di bursa global tahun 2016.
  •   Emas naik dua sesi beruntun pada hari Selasa, gelombang risk aversion akibat gejolak di China dan ketegangan di Timur Tengah masih menopang penguatan logam mulia ini. Penguatan dollar juga belum mampu menekan balik emas. Emas dipandang sebagai investasi alternatif jika terjadi ketidakpastian politik atau finansial. Bersama yen Jepang dan obligasi AS emas juga dianggap sebagai aset aman. Rally aset-aset safe haven cenderung berlangsung singkat, dan emas kini berfokus kebijakan moneter AS, minutes pertemuan Federal Reserve ketika menaikkan suku bunga akan dirilis pada hari Rabu waktu setempat.
  •   Minyak mentah menembus ke bawah $36 per barel pada hari Selasa, dan berada di level terendah dua pekan. Sentimen pelaku pasar terbebani stok minyak global dan data ekonomi China. Pasar juga mengabaikan ketegangan yang terjadi di Timur Tengah antara Arab Saudi dengan Iran. Para analis mengatakan selama konflik tersebut tidak berdampak pada produksi minyak, maka tidak akan ada pengaruhnya ke harga minyak. Retaknya hubungan Iran dengan Arab Saudi juga dianggap menambah kecemasan akan peningkatan stok global, spekulasi jika OPEC dapat menurunkan produksi dalamjangka pendek menjadi hilang pasca konflik tersebut.

Selasa, 05 Januari 2016

IHSG 5 Januari 2016

Tadi malam Indeks Dow Jones ditutup di level 17,148.94 melemah 276.09 poin (-1.58%) merespon kondisi di China dan Timur Tengah. Sentimen positif internal seperti turunnya BBM, pembangunan infrastruktur & kemungkinan turunnya suku bunga, sementara terkubur oleh sentimen negatif dari eksternal. 

Beberapa sentimen negatif datang dari eksternal yaitu kejatuhan saham di China sebesar 7 % kemarin hingga perdagangannya dihentikan. Hal itu terjadi karena investor di China mulai melepas saham setelah larangan menjual saham berakhir yaitu pada 8 Januari 2015. Larangan jual saham itu diberlakukan oleh pemerintah China untuk mencegah kejatuhan saham lebih dalam beberapa waktu yg lalu. Selain itu, perlambatan perekonomian masih terjadi di China, data aktivitas pabrik yg baru dirilis cenderung melambat.

Selain itu koreksi di market juga dikarenakan ketegangan di Timur Tengah yaitu pemutusan hubungan diplomatis Arab Saudi dan Iran. Ketegangan ini memicu kekuatiran terganggunya suplai minyak dunia yang berakibat mendongkrak kenaikan harga minyak dalam jangka pendek.

IHSG ditutup di level 4,525.92  tepat kembali di area suport, melemah 67.09 poin (-1.46%). IHSG kembali berpotensi menguji area suport 4444. Speculative rebound untuk saham sektor energy, merespon kenaikan harga minyak.

Waspadai volatilitas pasar dalam beberapa hari ini !!!

Outlook US & Global 5 Januari 2016


  •  Sterling Goyah, Data Manufaktur Mengecewakan. Sterling mengalah pada penguatan Dollar AS usai laporan beberapa data ekonomi domestik yang memberikan pandangan bertentangan gagalmenopang penguatan mata uang Inggris tersebut. Berdasarkan data yang dirangkum Markit, pada bulan lalu ekspansi sektor manufaktur di Inggris menurun. Namun data dari Bank of England (BoE) menunjukkan adanya peningkatan optimisme konsumen terkait kondisi finansialnya pada bulan November. PMI Manufaktur bulan Desember mengindikasikan adanya peluang penurunan pertumbuhan ekonomi Inggris pada tahun lalu, setidaknya lebih rendah dari prediksi. Kondisi ini mempertahankan ekspektasi BoE akan menunda potensi kenaikan suku bunga Inggris dari rekor terendah menjadi secepatnya semester kedua tahun ini.
  •  Aussie Terbenam Ekspektasi Penurunan Pesanan Ekspor Dari China. Valuasi Dollar Australia turun tajam terhadap Dollar AS menyusul kekecewaaan akan laporan sektor manufaktur China memicu ketakutan terkait perlambatan ekonomi Beijing dan dampaknya dalam perdagangan Australia-China. Lembaga swasta melaporkan kontraksi sektor manufaktur China semakin dalam pada bulan Desember dan menimbulkan kekhawatiran akan ada penurunan permintaan bijih besi dan batu bara, komoditas utama Australia. China merupakan rekan dagang utama Australia. Investor juga mewaspadai publikasi tiga data penting untuk pekan ini. Rendahnya valuasi Aussie dinilai dapat membantu memperkecil defisit perdagangan Australia pada bulan November. Sementara dua data lainnya diekspektasikan akan dilaporkan lebih buruk dari laporan sebelumnya.
  •  Divergen Kebijakan Moneter Menopang Dollar AS. Dollar terhampar dekat level tinggi 2-pekan terhadap sejumlah mata uang utama pada hari Senin dalam sesi perdagangan pertama tahun 2016, tahun di mana pasar memperkirakan divergen kebijakan moneter bank sentral akan memberikan greenback keuntungan dibanding mata uang lainnya. Dollar berhasil menguat meski setelah data menunjukkan aktivitas sektor manufaktur AS berkontraksi dengan laju paling cepat sejak Juli 2009 di bulan Desember. Pasar juga mencemaskan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Iran pada akhir pekan.
  •  Laju Pertumbuhan Sektor Manufaktur Inggris Melambat di bulan Desember. Sektor manufaktur Inggris secara mengejutkan melambat di bulan Desember, mensinyalkan minimnya kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian di kuartal terakhir 2015. Markit Economics pada hari Senin mengatakan PMI sektor manufaktur miliknya turun ke level rendah 3-bulan pada 51.9 dari revisi menjadi 52.5 di bulan November. Ekonom memperkirakan indeks tetap berada pada 52.7. Data PMI yang buruk menyusul laporan yang menunjukkan bahwa sektor manufakutr China berkontraksi untuk kelima bulan berturut-turut di bulan Desember, menekan turun bursa saham global dengan indeks CSI 300 China anjlok 7% dan memicu penghentian sementara perdagangan.
  •  Pasar Ekuitas Asia Tergelincir Karena Ketakutan Memburuknya Ekonomi China. Pasar saham di seluruh Asia anjlok pada hari Senin, yang merupakan hari pertama perdagangan tahun ini, setelah sinyal terbaru yang menunjukkan ekonomi China melambat. Indeks Shanghai Composite merosot 6.85% menjadi 6,296.66 dan indeks Shenzen Composite merosot 8.1% Indeks Hang Seng juga turun sekitar 2.68% di 21,327.12. Indeks di Australia, Jepang, Korea Selatan dan India juga anjlok. Saham di sektor energi, terlihat menguat setelah harga minyak rebound selama jam perdagangan Asia. Di Jepang Indeks Nikkei 225 ditutup turun 582.73 poin, atau 3.06%, dengan sebagian besar sektor berakhir di zona merah. Indeks Kospi Korea Selatan, yang dimulai agak telat, turun sebesar 2.17% di 1,918.76.
  •  Bursa Eropa Anjlok Mengikuti Sell Off Bursa China. Bursa saham Eropa anjlok tajam pada hari Senin mengikuti sell off bursa saham China, sentimen semakin diperburuk akibat meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Arab Saudi. Para analis secara umum optimis dengan outlook bursa Eropa di tahun 2016, namun di perdagangan pertama yang terjadi justru sebaliknya. Seluruh bursa saham regional Eropa merosot akibat data manufaktur China yang mengecewakan memicu sell off bursa Shanghai. Bursa China sempat merosot 7% sehingga perdangan harus dihentikan. Indeks DAX 30 Jerman menjadi yang paling terpukul, setelah kehilangan 4,3% menjadi 10.283,44, dan menjadi sesi terburuk sejak bulan Agustus lalu. Indeks CAC 40 Prancis melemah 2,5% menjadi 4.522,45, sementara FTSE 100 Inggris turun 2,4% menjadi 6.093,43.
  •  Awal Tahun Terburuk Bagi Dow Sejak 2008. Bursa saham AS melemah pada hari Senin, perdagangan pertama tahun ini, terbebani oleh kecemasan akan pelambatan ekonomi global dan ketegangan di Timur Tengah. Sentimen juga terbebani bursa China yang merosot tajam hingga perdagangan harus dihentikan. Indeks Dow Jones sempat anjlok lebih dari 450 poin, sebelum berhasil memangkas penurunan hingga menjadi 280 poin, atau melemah 1,6%. Namun Dow tetap mencatat awal tahun terburuk sejak 2008, ketika indeks blue chips tersebut kehilangan 1,7%, menurut FactSet. Masih berdasarkan FactSet, S&P 500 membukukan penurunan awal tahun terbesar sejak 2001, S&P melemah 1,5%. Nasdaq juga mengalami hal yang sama, turun 2,1%, menjadi yang terbesar sejak awal 2001 ketika merosot 7,2%.
  •  Anjloknya Bursa Global Untungkan Emas. Emas rally pada hari Senin, ditopang oleh ketegangan di Timur Tengah dan anjloknya bursa saham global menyusul buruknya data ekonomi China yang memicu kecemasan akan pertumbuhan ekonomi global. Para pelaku pasar mengawali 2016 dengan sentimen negatif, bursa saham China anjlok 7% dan perdagangan harus dihentikan, bursa di belahan bumi lainnya pun turut rontok. Permintaan safe haven seperti emas dan oblogasi menjadi meningkat pasca merosotnya bursa global. Namun berlanjutnya penguatan dollar membuat emas turun dari level tertinggi harian. Presiden Federal Reserve San Fransisco, John Williams, mengatakan kenaikan suku bunga sebanyak tiga sampai lima kali di tahun ini adalah hal yang wajar.
  •  Gejolak Timur Tengah Belum Mampu Kalahkan Oversupply Minyak. Minyak bergerak volatil pada hari Senin sebelum berakhir melemah. Sempat rally sekitar 4% akibat ketegangan di Timur Tengah, namun kemudian berbalik turun akibat pelaku pasar kembali cemas akan pelambatan ekonomi global, dan sell off pasar China. Para trader juga mengatakan pesediaan minyak di Cushing Oklahoma meningkat, yang semakin memperdalam penurunan minyak. Rally minyak sebelumnya dipicu oleh Arab Saudi yang menarik diplomatnya dari Iran yang dikhawatirkan akan mengganggu pasokan minyak dari Timur Tengah.
  •  Jefferies Turunkan Peringkat saham Fossil Group menjadi Hold, dengan target harga di bawah $40 dari sebelumnya $68. Perusahaan asesoris tersebut menderita akibat melambatnya penjulan jam tangan dan meningkatnya kompetisi, termasuk dengan Apple Watch dan FitBit Inc. KErjasama dengan Michael Kors Holding yang sahamnya anjlok 46% dalam 12 bulan juga membebani pergerakan Fossil. Fossil mengakusisi Misfit untuk membuat terobosan di kategori wearable global, namun hanya memiliki pangsa pasar 1%. Saham Fossil dalam 12 bulan terakhir telah merosot 69,2%. 
  •  Pasca Spinoff Ferrari, Saham Fiat Anjlok Sepertiga. Fiat Chrysler Automobiles NV kehilangan sekitar sepertiga nilai pasar pada hari Senin setelah produsen mobil Italia-Amerika tersebut memulai perdagangan tanpa produsen mobil sport mewah, Ferrari NV. Fiat Chrysler memisahkan 80% saham Ferrari miliknya pada hari Minggu, mengakhiri kontrol ekslusif selama lebih terhadap Ferrari yang menjulan mobil dikisaran $273.000 per unit. Jika pemisaham tersebut selesai, Sergio Marchionne, Fiat Chrysler Chief Executive dalat berkonsentrasi pada rencana ambisius di 2018 yang akan berinvestasi pada merk Jeep dan Alfa Romeo. Technical Outlook

Selasa, 03 Juni 2014

REKOMENDASI FOREX TRADING 3 JUNI 2014

GBP/USD (Last Price: 1.6746) SELL, Entry = 1.6742, SL = 1.6782, TP = 1.6702 if wrong then BUY, Entry = 1.6782, SL = 1.6742, TP = 1.6822

USD/JPY (Last Price: 102.44) BUY, Entry = 102.47, SL = 102.07, TP = 102.87 if wrong then SELL, Entry = 102.07, SL = 102.47, TP = 101.67

USD/CHF (Last Price: 0.8986) BUY, Entry = 0.8988, SL = 0.8948, TP = 0.9028 if wrong then SELL, Entry = 0.8948, SL = 0.8988, TP = 0.8908

AUD/USD (Last Price: 0.9238) SELL, Entry = 0.9240, SL = 0.9280, TP = 0.9200 if wrong then BUY, Entry = 0.9280, SL = 0.9240, TP = 0.9320

FOREX OUTLOOK 3 JUNI 2014


  •   EUR/USD. Bias bearish dalam jangka pendek, namun dibutuhkan penembusan di bawah area 1.3585 untuk memicu skenario koreksi bearish lebih lanjut menguji kembali area 1.3500. Pada pergerakan ke atas, resisten terdekat terlihat disekitar area 1.3645, penembusan konsisten di atas area tersebut akan membawa harga ke zona netral akibat arah pergerakan menjadi tidak jelas, namun secara keseluruhan skenario bearish masih bertahan selama harga berada di bawah area 1.3700.
  •   GBP/USD. Bias bearish dalam jangka pendek khusunya jika harga mampu menembus di bawah area 1.6700 untuk memicu skenario koreksi bearish menuju area support 1.6660. Resisten terdekat terlihat disekitar area 1.6790, penembusan konsisten di atas area tersebut akan membawa harga ke zona netral akibat arah pergerakan menjadi tidak jelas, dalam jangka pendek kemungkinan menguji area 1.6840.
  •   USD/JPY. Bias bullish dalam jangka pendek khusunya jika harga mampu menembus di atas area 102.55 untuk memicu tekanan bullish lebih lanjut menuju area 102.75 102.90. Pada pergerakan ke bawah, support terdekat terlihat disekitar area 101.70, penembusan konsisten di bawah area tersebut akan membawa harga ke zona netral akibat arah pergerakan menjadi tidak jelas, dalam jangka pendek kemungkinan menguji area 101.30.
  •   USD/CHF. Bias bullish dalam jangka pendek khusunya jika harga mampu menembus di atas area 0.8990 untuk memicu tekanan bullish lebih lanjut menuju area resisten 0.9025. Pada pergerakan ke bawah, support terdekat terlihat disekitar area 0.8935, penembusan konsisten di bawah area tersebut akan membawa harga ke zona netral, dalam jangka pendek kemungkinan menguji 0.8890
  •   AUD/USD. Bias bearish dalam jangka pendek, namun dibutuhkan penembusan di bawah area 0.9225 untuk memicu momentum bearish lebih lanjut setidaknya menguji area 0.9170. Resisten terdekat terlihat disekitar area 0.9300, penembusan konsisten di atas area tersebut akan membawa harga ke zona netral akibat arah pergerakan menjadi tidak jelas dalam jangka pendek menguji area 0.9335.
  •   XAU/USD. Bias bearish dalam jangka pendek menguji area 1240, penembusan konsisten di bawah area tersebut seharusnya memicu momentum bearish lebih lanjut menguji area 1232. Kegagalan menembus di bawah area 1240 akan memberikan peluang bagi harga untuk naik menguji area 1254 seiring indikator stochastic dan RSI berada pada wilayah jenuh jual. Penembusan di atas area tersebut akan memberikan dorongan bagi harga untuk menguji area 1262.

Senin, 02 Juni 2014

Forex Signal 2 Juni 2014

EUR/USD (Last Price: 1.3603) SELL, Entry = 1.3605, SL = 1.3645, TP = 1.3565 if wrong then BUY, Entry = 1.3645, SL = 1.3605, TP = 1.3685

GBP/USD (Last Price: 1.6736) SELL, Entry = 1.6740, SL = 1.6780, TP = 1.6700 if wrong then BUY, Entry = 1.6780, SL = 1.6740, TP = 1.6820

USD/JPY (Last Price: 102.02) BUY, Entry = 102.05, SL = 101.65, TP = 102.45 if wrong then SELL, Entry = 101.65, SL = 102.05, TP = 101.25

USD/CHF (Last Price: 0.8982) BUY, Entry = 0.8980, SL = 0.8940, TP = 0.9020 if wrong then SELL, Entry = 0.8940, SL = 0.8980, TP = 0.8900

AUD/USD (Last Price: 0.9254) SELL, Entry = 0.9245, SL = 0.9285, TP = 0.9205 if wrong then BUY, Entry = 0.9285, SL = 0.9245, TP = 0.9325





Jumat, 13 September 2013

IHSG 13 SEPTEMBER 2013


  • IHSG memasuki fase konsolidasi, semua sudah price in, baik tingkat Inflasi, Nilai tukar, Cadangan Devida, Swap bilateral dengan Jepang, dan terakhir adalah BI rate dinaikan kembali 0.25% menjadi 7.25%
  • Hal yang masih positif adalah asing masih nett buy, walaupun semakin hari semakin berkurang value nett buy nya.
  • Secara Tehnical IHSG mulai memasuki area jenuh beli, terutama oleh  saham-saham finance, dan Industri dasar, sektor property dan konstruksi masih belum jenuh beli, sehingga berpeluang naik di sektor itu.
  • Secara Macro Ekonomi Indonesia akan mengalami slow down, seperti dikemukakan kemarin, penurunan GDP dari  5.8%-6.2% menjadi 5.5%-5.9%.
  • Dalam jangka pendek ini, kita menunggu sampai awal Oktober 2013, untuk menantikan data Inflasi bulan September 2013.
  • Untuk trading hari ini pilihlah saham-saham yang naik belum signifikant, kenaikan yang tajam beberapa hari yang lalu akan membuat profit taking yang besar juga seperti yang dialami oleh saham BBRI dan SMGR.
  • Hari ini masih boleh perhatikan saham Property dan konstruksi.
  • Jangan lupa lihat juga apakah asing masih agresif net buy atau tidak dan nilai tukar Rupiah terhadap USD.
  • Ada kala naik dan ada kala turun, dan ada saham yang naik, ada pula saham yang turun, dan ada juga sektor yang bergerak anomali dengan IHSG, so jeli-jeli saja kita sebagai trader.
  • Mudah-mudahan angin besar dan badai dari bulan Juni hingga Agustus 2013 ini sudah berakhir dan mulai membaik di bulan September 2013 dst (ngarep.com)

OUTLOOK US & GLOBAL 13 SEPTEMBER 2013


  • Bursa saham AS dan dolar terkoreksi sedangkan harga Treasury naik pada perdagangan hari Kamis setelah investor menahan diri menjelang sidang The Fed minggu depan. Melemahnya bursa telah mengakhiri kenaikan 7 hari berturut‐turut pada indeks S&P 500 sementara data menunjukkan penurunan pada industrial output zona euro yang mengakhiri kenaikan 8 hari berturutan pada pasar ekuitas.
  • Data klaim pengangguran mingguan AS mencatat turun 31.000 menjadi 292.000, level terendahnya sejak 2006. Namun pasar kecewa setelah mengetahui adanya masalah teknis di 2 negara bagian dalam memproses data klaim yang masuk pekan lalu.
  • Dolar anjlok dari posisi tertinggi 7 pekan terhadap yen serta bergerak tipis terhadap euro menyusul turunnya yield obligasi AS dan berkembangnya spekulasi bahwa The Fed akan berhati‐hati dalam upayanya mengurangi stimulusnya ketika bersidang pekan depan.
  • Still, given expectations that the Federal Reserve is poised to begin unwinding its long‐standing monetary accommodation, benchmark yields might not be high enough. A 10‐year with a 3.5 percent yield would be a more comfortable equilibrium level than 3 percent, kata Jeff Knight, head of global asset allocation pada Columbia Management yang berbasis di Boston.
  • Pihak Treasury AS menjual obligasi tenor 30 tahun senilai $13 milyar, penjualan terakhir dari $65 milyar untuk obligasi pemerintah AS dalam pekan ini.
  • Hasil jajak pendapat terkini Reuters menunjukkan The Fed akan memangkas stimulus sebesar $10 milyar dibandingkan $15 milyar hasil jajak pendapat sebelum rilis data pekerjaan AS. Indeks dolar bergerak mendekati level terendah 2 pekan seiring fokus pasar terhadap sidang The Fed.
  • Di pasar Wall Street, indeks S&P 500 tercatat telah naik 3,4% dalam 7 sesi terakhir seiring meredanya kekhawatiran terhadap krisis Suriah dan rilis lebih baik dari perkiraan untuk data ekonomi Cina. Dalam perdagangan Kamis kemarin, Dow Jones industrial average <.DJI> fmerosot 25,96 poin atau 0,17% di 15300,64. Sedangkan Standard & Poor's 500 Index <.SPX> turun 5,71 poin atau 0,34% di 1683,42. Sedangkan Nasdaq Composite Index <.IXIC> turun 9,042 poin atau 0,24% di 3715,97.
  • Indeks saham Eropa, FTSE Eurofirst 300 index <.FTEU3>, berakhir melemah 0,02% sedangkan indeks ekuitas global MSCI turun 0,18%.
  • Harga obligasi Treasuries naik sehari setelah selesainya Verizon <VZ.N> memecahkan rekor kesepakatan obligasi korporasi. Verizon menjual obligasi senilai $49 miliar, jauh melebihi rekor investasi sebelumnya senilai $17 miliar oleh Apple pada bulan April, menurut data IFR, sebuah layanan Thomson Reuters.
  • Jika The Fed memangkas stimulus lebih sedikit dari yang di perkirakan, maka akan berpotensi mendorong naiknya aset‐aset beresiko.
  • Bank sentral Indonesia meluncurkan kenaikan suku bunga kejutan untuk membantu rupiah pulih dari level terendah 4‐1/2‐ tahun. Sedangkan bank sentral Asia lainnya diperkirakan menunggu keputusan The Fed pekan depan sebelum mengambil tindakan apapun.
  • Emas tergelincir ke $1326,54 per ons, sementara minyak mentah Brent bertambah sekitar $1,5 menjadi $113,00 karena para investor mengamati upaya diplomatik untuk menempatkan senjata kimia Suriah di bawah pengawasan internasional.
    (vaf)

Kamis, 12 September 2013

IHSG 12 SEPTEMBER 2013


  • Asing masih net buy relatif besar, namun secara teknikal, karena IHSG terlalu jauh dari MA5, maka mudah terjadi aksi profit taking, apalagi secara psikologis trader masih jera, dan banyak trader yang keluar dari posisi kejepitnya.
  • Sektor Mining dan Agri malah menguat, karena IHSG melemah, jadi masih perlu waspada, karena IHSG masih dalam katagori down trend, namun jika asing masih agresif net buy, maka relatif cukup aman.
  • Kenaikan IHSG yang relatif cukup tajam dalam 3 hari terakhir ini, maka sebaiknya juga hati-hati, sebaiknya melakukan pembelian ketika harga saham mendekati MA5 kembali.
  • Tidak begitu banyak pilihan buat trading hari ini, kecuali yang sedang hold saham, sebaiknya pasang trailing stop.
  • Hari Kamis tanggal 12 September 2013 ini ada 2 peristiwa penting yang perlu dicermati, yang pertama adalah Listingnya saham Siloam Hospital dengan kode SILO, dan yang kedua adalah penentuan BI-rate, apakah Gubernur BI akan menaikan BI-rate lagi atau tidak yang saat ini sudah mencapai 7%, dan kita ikuti juga bagaimana pengaruhnya terhadap IHSG, karena keputusan yang tidak baik tentang BI-rate, akan membuat asing kabur kembali.

OUTLOOK US & GLOBAL 12 SEPTEMBER 2013


  • Penjualan obligasi senilai $49 milyar oleh Verizon dilahap oleh para investor fixed‐income pada hari Rabu, penjualan obligasi korporasi terbesar sepanjang sejarah, sementara bursa global menguat seiring meredanya kekhawatiran terjadinya serangan militer AS ke Suriah, dan dolar jatuh ke level terendah 2 pekan. Indeks S&P 500 mencatat kenaikan dalam 7 hari berturutan.
  • Kesepakatan obligasi Verizon Communications Inc's senilai $49 milyar menarik total order $101 milyar dari dana pensiun, hibah, para pembeli institusi dan manager kekayaan yang lapar terhadap sekuritas (efek) dengan imbal hasil yang lebih tinggi. Banyak perusahaan menjual obligasinya karena kekhawatiran terjadi kenaikan suku bunga jangka panjang ketika sidang The Fed tanggal 17‐18 Maret mendatang yang kemungkinan akan memutuskan untuk mengurangi stimulusnya dalam beberapa bulan kedepan. Penjualan obligasi oleh Verizon sebagian digunakan untuk membiayai pembelian operasional nirkabel senilai $130 milyar, Verizon Wireless, dari Vodafone.
  • "Despite the specter of higher Treasury rates going forward, investor demand remains for attractively priced corporate credit deals," kata Bonnie Baha, kepala pengembang kredit pada DoubleLine.
  • Treasury AS tenor 10 tahun naik 16/32 dengan yield menurun menjadi 2,91% dari 2,97% di hari Selasa dan level tertinggi 2 tahun di 3,01% di hari Jumat.
  • Kekhawatiran terhadap krisis di Suriah mereda dan berhasil mengangkat bursa saham. Presiden AS Barack Obama juga meminta Kongres untuk menunda pemungutan suara berkenaan dengan otorisasi serangan militar AS ke Suriah sembari menunggu proses diplomasi berjalan.
  • Saham Apple Inc turun 5,4%, satu hari setelah meluncurkan iPhone high‐end dengan pemindai sidik jari serta model yang lebih murah yang ditargetkan pada pasar negara berkembang. Penurunan saham Apple telah memicu Nasdaq Composite <.IXIC> turun 4,01 poin atau 0,11% ke 3725,01. Namun Dow Jones industrial average <.DJI> berhasil menguat ditopang oleh kenaikan saham IBM, dengan indeks naik 135,54 poin atau 0,89% ke 15326,60. Sedangkan S&P 500 <.SPX> bertambah 5,14 poin atau 0,31% ke 1689,13.
  • Indeks ekuitas global MSCI naik 0,46% dan FTSEurofirst 300 <.FTEU3> naik 0,32%.
  • Harga minyak Brent berhasil rebound pasca mencatat kejatuhan 2 hari terdalamnya sejak Juni. Harga emas juga berhasil naik setelah terkoreksi ke level terendah 3 pekan.
  • Sterling terangkat oleh rilis optimis data tingkat pengangguran di Inggris yang turun ke level terendah sejak akhir 2012.
  • Pasar masih menantikan sidang The Fed tanggal 17‐18 September untuk memastikan arah kebijakan bank sentral AS, utamanya mengenai rencana pemangkasan stimulus.
    (vaf)

Rabu, 11 September 2013

IHSG 11 SEPTEMBER


  • Kemarin asing net buy hampir 1,5 trilyun, dengan memborong saham BMRI dan BBRI, berarti capital inflow kembali, dan terlihat juga penguatan Rupiah terhadap USD.
  • Yang kedua yang harus diperhatikan adalah makna dari open up secara 3 hari berturut-turut, seperti halnya yang terjadi pada bulan Agustus 2013, open gap down secara 3 hari berturut-turut, Open gap up ataupun open gap down, pertanda ada kekuatan besar jika disertai oleh Long white Candle untuk arah bullish dan long black candle untuk market bearish.
  • Long White Candle adalah Candle dimana open = Low, Close = High, dan kenaikan sangat tinggi, sehingga candle berbentuk memanjang, tanpa ekor baik bawah ataupun atas.
  • Yang ketiga adalah EIDO yang naik cukup fantastis cukup berpengaruh juga terhadap IHSG, karena orang-orang Amerika disana bisa bermain dengan membeli EIDO, tanpa membeli saham-saham IHSG, sehingga mereka bisa dapat gain, karena posisi mereka beisa beli ataupun jual, tanpa harus memiliki sahamnya terlebih dahulu, berbeda dengan IHSG, dimana kita tidak bisa jual, tanpa memiliki saham dulu.
  • Yang ke-4 adalah ketika Rupiah mulai menguat, maka saham mining dan saham agri mulai tertekan kembali, terutama mereka yang mempunyai penjualan dengan mata uang USD, namun sebaliknya ini menguntungkan terhadap saham-saham yang mempunyai hutang USD, salah satu contohnya adalah saham ASRI yang langsung terbang diatas 20%.
  • Hari ini  pilihlah saham-saham bluechips yang masih turun dalam.
  • Hari ini cukup 1 katalis, lihat asing agresif beli masih berlanjut atau tidak, jika masih berlanjut, maka peluang IHSG menuju minimal level 4500-4575 akan didepan mata.
  • Bagi yang sudah membeli saham 1-2 hari yang lalu, jangan cepat-cepat ambil aksi profit taking, sepanjang market masih diangkat terus (Let the profit run), kecuali saham coal dan agri. 
  • Besok listing saham SILO (Siloam Hospital), boleh perhatikan saham-saham Lippo group.

OUTLOOK US & GLOBAL 11 SEPTEMBER 2013


  • Rilis optimis data ekonomi Cina dan potensi penyelesaian krisis Suriah dengan jalan diplomasi telah mendorong penguatan pada bursa saham AS untuk 6 hari berturut‐turut seiring menguatnya dolar dan ekuitas, sementara harga obligasi dan minyak tertekan. Indeks S&P 500, setelah mencatat kinerja bulanan terburuk sejak Mei 2012 di bulan Agustus, berhasil mencatat kenaikan 3,1% sepanjang bulan ini menyusul pencapaian kenaikan harian terlamanya sejak awal Juli.
  • Suriah menerima usulan Rusia pada hari Selasa untuk menyerahkan senjata kimia dan pihak Barat mulai bekerja sama dengan PBB untuk menciptakan sebuah proses guna memastikan bahwa penyerahan senjata kimia itu benar‐benar terjadi, meskipun Amerika Serikat dan sekutunya tetap skeptis dan Presiden Barack Obama terus menekan Suriah dengan mencari dukungan kongres untuk melakukan serangan militer sembari mencari sebuah alternatif diplomatik.
  • Dow Jones industrial average <.DJI> naik 127,94 poin atau 0,85% ke 15191,06 dan S&P 500 <.SPX> bertambah 12,28 poin atau 0,73% ke 1683,99. Sedangkan Nasdaq Composite <.IXIC> naik 22,83 poin atau 0,62% ke 3729,021.
  • Kondisi kontras terlihat pada harga obligasi pemerintah AS , dengan Treasury tenor 10 tahun turun 13/32 dan yield naik ke 2,97%. Keengganan investor pada aset aman resiko telah memicu koreksi pada harga obligasi. Harga obligasi Jerman dan emas serta logam mulia lainnya juga turut tertekan.
  • Rilis data industrial output dan retail sales Cina yang berhasil melampaui perkiraan telah memberikan indikasi stabilnya kondisi ekonomi negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut setelah melambat dalam 2 tahun, sebuah kondisi yang mendorong penguatan pada pasar ekuitas global. Indeks saham Eropa melonjak 1,26% diikuti oleh pencapaian level tertinggi 3 bulan untuk saham Asia.
  • "The U.S. economy is a little weaker than desired, but the recovery theme remains in place. Data from China this week show China might be recovering. If the No. 1 and No. 2 economies in the world are recovering, that favors riskier assets," kata Greg Peterson, direktur riset dan investasi pada Ballentine Partners di Waltham, Massachusetts.
  • Meskipun mengalami pelemahan terhadap sejumlah rivalnya, namun dolar mampu menguat terhadap yen dipicu meredanya krisis Suriah dan rilis optimis data ekonomi Cina. Yen juga melemah setelah rilis minutes BoJ di hari Selasa yang menunjukkan para anggota dewan kebijakan optimis bahwa langkah stimulus agresif bank sentral yang belakangan ini dilakukan telah membantu memulihkan perekonomian.
  • Sementara itu Departemen Keuangan AS telah menjual $31 milyar surat berharga bertenor 3 tahun dan akan menjual surat berharga bertenor 10 tahun pada hari Rabu ini dan untuk tenor 30 tahun pada hari Kamis.
    (vaf)

Selasa, 10 September 2013

IHSG OUTLOOK 10 SEPTEMBER 2013


  • Kemarin IHSG terlihat strong bullish, terlihat dari open gap up 4072-4105, , Open = Low, Close = High, dan ditutup pada level 4191 mendekati resist 4206, demikian juga banyak saham-saham yang open gap up, seperti saham BBRI, KLBF, INDF, ICBP, dsb.
  • Pagi ini Dow ditutup naik hampir 0.94%, sedangkan EIDO naik 5.35%, sehingga jika IHSG hari ini melanjutkan rallynya kembali, sehingga dihampir dipastikan IHSG akan mudah menembus level 4206.
  • Jika IHSG open gap up, maka akan mudah menembus resist 4206 dan akan mampu tutup gap 4259-4310, sehingga target IHSG adalah 4277-4379-4560.
  • Apakah Minggu ke-2 bulan Setember 2013 ini pertanda IHSG akan bullish kembali, tentu saja tidak demikian mudah, sepanjang Rupiah masih melemah terhadap USD, maka IHSG tidak akan buru-buru balik ke level 5000an kembali.
  • Kemarin Rupiah terhadap USD sempat naik di level 11.100, namun menjelang penutupan naik kembali menjadi 11.400.
  • Saham-saham pilihan untuk hari ini tentu saja yang berkaitan dengan saham EIDO, yaitu ASII, BBCA, TLKM, BBRI, BMRI, PGAS, UNVR, SMGR, KLBF dan INTP.
  • Sentimen dari sektor otomotif adalah Pemerintah usai menerbitkan peraturan terkait mobil murah dan ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC), dan Daihatsu langsung meresmikan peluncurkan mobil ALYA nya, dengan harga termurah 76.5 juta rupiah.
  • Sektor negatif yang masih kurang mendukung IHSG adalah asing masih banyak melakukan net sell pada saham BMRI, namun sebaliknya malah asing mengumpulkan saham BBRI, sehingga saat ini harga BBRI sudah berada diatas BMRI. sedangkan kemarin saham BBCA melesat hingga 6.3%
  • Kemarin seluruh sektor bermain di zona hijau, Sektor basic Industry menjadi kenaikan paling tinggi, tertutama oleh saham CPIN dan MAIN, diikuti oleh sektor Finance dengan kenaikan tertinggi oleh saham BJBR, BBRI dan BBCA, selanjutnya diikuti oleh sektor property, dengan kenaikan saham ASRI, KIJA,,PTPP,  
  • Saham pilihan hari ini tentu saja  cukup banyak, namun perhatikan kalau IHSG open gap, tetapi menjelang penutupan malah turun (candle merah), maka sebaiknya hati-hati, namun jika IHSG stabil diatas 4206-4250, maka sebaiknya hold saja

OUTLOOK US DAN GLOBAL 10 SEPTEMBER 2013



  • Rilis optimis data ekonomi Cina telah mendorong naiknya bursa Wall Street pada hari Senin dengan indeks S&P 500 terapresiasi untuk 5 hari berturut‐turut, sementara harga obligasi naik sedangkan harga minyak turun seiring prospek serangan militer Barat ke Suriah.
  • Dolar terkoreksi terhadap sejumlah rival utamanya menyusul masih berlangsungnya perdebatan mengenai kapan dan seberapa besar The Fed akan memangkas stimulusnya. Sebagian besar ekonom memprediksi pemangkasan stimulus akan dilakukan pada sidang The Fed tanggal 17‐18 September.
  • Data ekspor Cina yang dirilis optimis telah meredakan kekhawatiran mengenai kemungkinan terjadi kejatuhan ekonomi di negara dengan perekonomian terbesar kedua didunia tersebut. Kondisi ini telah mengangkat bursa saham AS dengan Nasdaq ditutup di level tertingginya sejak September 2000.
  • Dow Jones industrial average naik 140,62 poin atau 0,94% di 15063,12. Standard & Poor's 500 Index <.SPX> naik 16,54 poin atau 1,00% di 1671,71. Sedangkan Nasdaq Composite Index <.IXIC> naik 46,17 poin atau 1,26% di 3706,18. Indeks S&P naik di atas area MA‐50 untuk pertama kalinya sejak 23 Agustus, sebuah sinyal positif untuk jangka penek kedepan.
  • Data ekspor Cina juga berhasil mengangkat pasar ekuitas dunia, dengan MSCI emerging equities index <.MSCIEF> naik 1,8% ke level tertinggi 3 pekan dan MSCI world equity index <.MIWD00000PUS> naik 1,99%, mencatat kenaikan 6 hari berturut‐turut.
  • Terganggunya aktifitas bisnis di Timur Tengah telah menekan indeks saham Eropa, menyusul melemahnya saham prusahaan minyak BG Group dan ancaman terhadap melonjaknya harga minyak telah memicu profit‐taking pada perusahaan konstruksi Bouygues. FTSE Eurofirst 300 index <.FTEU3> ditutup melemah 0,15%, meskipun masih tercatat menguat 6,4% sejak awal Juli, lebih dari 2 kali lipat dibandingkan yang diperoleh S&P 500.
  • Sementara euro mendapat dukungan dari rilis optimis data sentimen Sentix, pandangan investor terus tertuju pada perkembangan yang terjadi di Roma, di mana Senat Italia akan berdebat apakah akan mengusir mantan perdana menteri Silvio Berlusconi dari parlemen, dimana pengusiran ini bisa mengancam koalisi negara itu.
  • Di putaran terakhir pemungutan suara pada rapat Komite Olimpiade Internasional (IOC) di Buenos Aires, Argentina, pada hari Sabtu (7/9/2013), Tokyo akhirnya memenangi persaingan menjadi tuan rumah Olimpiade 2020. Ibu kota Jepang ini mengalahkan Istanbul (Turki). Kemenangan ini bisa meningkatkan ekonomi Jepang dan berkontribusi terhadap upaya Perdana Menteri Shinzo Abe untuk mengembangkan perekonomian setelah selama dekade terakhir mengalami deflasi. Dengan menjadi tuan rumah Olimpiade diperkirakan bisa meningkatkan perekonomian dengan 3 triliun yen ($30 miliar) selama tujuh tahun ke depan.
  • Sementara itu, pasar akan mencermati data ekonomi Cina lainnya pada hari Selasa ini, diantaranya data industrial production dan retail sales, dimana diharapkan akan memberikan gambaran mengenai prospek negara tersebut mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 7,5%.(vaf)

Selasa, 03 September 2013

OUTLOOK US & GLOBAL 3 SEPTEMBER 2013


  • Kemungkinan ditundanya aksi militer AS di Suriah dan meningkatnya data ekonomi dari Cina dan Eropa telah mengangkat pasar saham di hari Senin dan memicu melemahnya obligasi pemerintah, emas dan yen Jepang. Harga minyak rebound seiring membaiknya prospek ekonomi, setelah awalnya jatuh menyusul keputusan Presiden AS Barack Obama mengesampingkan aksi militer terhadap Suriah sampai anggota parlemen memiliki kesempatan untuk memberikan suara pada rencana tersebut.
  • Wall Street tutup berkenaan dengan perayaan Hari Buruh di AS dimana kondisi ini telah membatasi pergerakan di pasar global.
  • Pelaku pasar saat ini tengah menantikan sidang bank‐bank sentral dalam pekan ini serta rilis data non‐farm payrolls AS untuk melihat kemungkinan langkah pengurangan stimulus moneter The Fed.
  • Prospek ekonomi global terlihat membaik berdasarkan rilis data PMI sektor manufaktur untuk periode Agustus. Data PMI di Cina menunjukkan terjadi ekspansi terpesat di sektor manufaktur selama lebih dari setahun terakhir, mengurangi kekhawatiran pada investor mengenai terjadinya kejatuhan ekonomi di negara tersebut dalam tahun ini.
  • Peningkatan serupa juga terlihat di Eropa, dimana kegiatan manufaktur meningkat pada level terpesatnya selama lebih dari 2 tahun terakhir, dan manufaktur di Spanyol tengah bertumbuh untuk pertama kalinya sejak April 2011. Indeks FTSEurofirst 300 <FTEU3> ditutup naik 1,8%, dalam lonjakan harian terbesarnya sejak awal Juli. Rilis optimis data manufaktur Inggris juga turut mengangkat sterling.
  • Di AS, pasar saham berjangka menguat, dengan S&P 500 futures naik 16,5 poin, Dow Jones industrial average futures <DJc1> bertambah 117 poin dan Nasdaq 100 futures <NDc1> naik 35,5 poin.
  • Sebaliknya, kondisi yang kontras terjadi di India, dimana kegiatan pabrikan di negara ekonomi terbesar ketiga di Asia tersebut malah mengalami penurunan di bulan Agustus untuk pertama kalinya selama lebih dari 4 tahun terakhir, melanjutkan tekanan pada rupee dan menambah kelesuan ekonomi negara. Data tersbeut telah menghambat rebound rupee, dimana melemah 0,4% ke 66 terhadap dolar dan tidak jauh dari posisi terendahnya di 68,80 yang tercipta di pekan lalu.
  • Indeks ekuitas global naik 0,6% setelah mencatat penurunan dalam 4 pekan berturut‐turut disebabkan investor memposisikan diri untuk kemungkinan The Fed memulai langkah pengurangan stimulusnya, yang kemungkinan pada sidangnya bulan September ini.
  • Membaiknya ekonomi CIna telah membantu aset emerging market dan mengangkat Aussie yang memiliki hubungan perdagangan yang erat dengan Cina. Aussie tercatat menguat 0,9% di $0,8990.
  • Harga tembaga juga meningkat dipicu membaiknya ekonomi Cina sebagai konsumen utama, rebound 2% ke $7235 per ton setelah merosot dalam 4 hari berturut‐turut.
    (vaf)

Senin, 02 September 2013

IHSG 2 SEPTEMBER 2013

  • Hari Senin ini kita memasuki awal bulan September 2013, berarti kita akan mendapatkan data inflasi, yang masih diatas 1%. 
  • Jumat kemarin tanggal 30 Agustus 2013, IHSG naik 2.23% untuk hari ke-3 berturut-turut, dengan kenaikan tertinggi pada sektor basic industry, dan sektor terendah adalah finance, sehingga jelas terlihat sekali bahwa market menanti data inflasi, sekalipun Pemerintah telah menaikan BI-rate sebesar 0.5%. 
  • Saham-saham yang menjadi nett buy asing adalah BMRI, PGAS, UNVR, AALI, BRMS, ADRO, sedangkan saham-saham yang menjadi net sell asing adalah BBRI, ASII, JSMR, ICBP, BBCA.
  • Saham ERAA kemarin setelah ditekan cukup dalam dari harga tertinggi 3500 hingga lowest di harga 940, kemarin naik hingga AR kanan di harga 1320, sehingga maih terbuka kenaikan hari Senin ini.
  • Jumat kemarin Dow ditutup turun -0.21%, namun EIDO naik 2.95%, sehingga hari Senin ini market dibuka lebih cenderung datar, hingga keluar data inflasi, sehingga setelah itu mari kita lihat arah market kedepannya.
  • Tetap hati-hati dalam hal bertrading, karena IHSG masih masuk dalam katagori strong down trend. tidak ada sektor yang up trend, dan banyak yang masuk katagori strong down trend, sehingga silahkan dilihat di tabel arah IHSG berikut sektornya.
  • Saat ini sektor agri dan mining yang membaik, jadi lebih diperhatikan kedua sektor itu, namun beberapa hari terakhir ini seirig harga emas turun, maka harga timah dan nikel juga turun.



OUTLOOK US & GLOBAL 2 SEPETEMBER 2013


  • Bursa saham anjlok dan harga Treasury naik pada hari Jumat setelah Menteri Luar Negeri AS John Kerry menegaskan indikasi bahwa AS akan menghukum Presiden Suriah Bashar al‐Assad atas dugaan pengguanaan senjata kimia untuk meyerang warga sipil. Pernyataan Kerry telah memicu kekhawatiran bahwa AS telah siap melancarkan serangan militer terhadap Suriah dan memicu menurunnya aktifitas perdagangan menjelang libur akhir pekan selama 3 hari di AS berkenaan dengan peringatan Hari Buruh. Kerry juga menekankan bahwa Amerika Serikat akan bertindak sangat hati‐hati dan cermat dan tidak akan bertindak gegabah dengan cara apapun menyerupai invasi AS ke Afghanistan dan Irak, atau intervensi untuk membantu menggulingkan mantan diktator Libya Muammar Gaddafi. Kerry mengatakan AS tahu pemerintah Suriah telah menggunakan senjata kimia beberapa kali tahun ini.
  • Kekhawatiran terhadap aksi militer AS telah menyurutkan minat investor kepada obligasi pemerintah AS dan mendorong kenaikan pada dolar ke level tertinggi 4 pekan.
  • Bursa AS melemah, dengan indeks S&P 500 menutup bulan Agustus dengan kinerja bulanan terburuknya selama lebih dari setahun. Dow Jones industrial average <.DJI> turun 30,64 poin atau 0,21% di 14801,09. Sedangkan Standard & Poor's 500 Index <.SPX> turun 5,20 poin atau 0,32% di 1632,97. Sementara Nasdaq Composite Index <.IXIC> turun 30,44 poin atau 0,84% di 3589,87.
  • Di pasar obligasi, yield pada Treasury tenor 10 tahun menurun menjadi 2,7747 persen.
  • Indeks dolar sebagai barometer kekuatan dolar terhadap 6 mata uang utama dunia, tercatat di 82,067, tidak jauh dari level tertinggi 4 pekan di 82,263 yang dicapai sebelumnya.
  • Di pasar negara berkembang, rupee India anjlok 10,4% terhadap dolar selama bulan Agustus dan mencatat koreksi bulanan tertajamnya.
  • Investor terlihat mulai menjauhi aset beresiko menjelang sidang reguler The Fed pada 17‐18 September yang diperkirakan akan memutuskan untuk mengurangi program stimulus moneternya serta kemungkinan serangan militer AS terhadap Suriah.
  • Konflik Suriah juga telah memicu turunnya harga minyak meskipun kekhawatiran konflik lebih luas di Timur Tengah telah berkurang sedikit setelah Inggris mengatakan tidak akan bergabung dengan aksi militer, meskipun Prancis mengatakan masih mendukung langkah untuk menghukum pemerintah Suriah atas serangan gas beracun terhadap warga sipilnya.
  • Melemahnya harga saham minyak turut menekan indeks saham Eropa, dengan STOXX Europe 600 index <.STOXX> turun 0,9%, mencatat kerugian mingguan menjadi sekitar 2,4%. Harga emas juga mengalami penurunan, menjauhi level tertinggi 3‐1/2 bulan yang dicapai Rabu sebelumnya.
    (vaf)