Semua tulisan di blog ini

Semua tulisan di blog ini
Semua tulisan di blog ini bukan menganjurkan untuk membeli/menjual saham/obyek trading Anda, Semua keputusan ada di tangan Anda karena itu berhati-hatilah dalam melakukan trading dan investasi.

Senin, 28 Maret 2011

PIRAMID SISTEM 3

Untuk mengakhiri cerita QSAR ini ada cuplikan berita dari Detik.Com.
Judulnya: “Kembalikan Dana PPP Rp 5 M, Tosari Siap Jual Celana Kolor”
Reporter : Wildan Hakim
Detikcom, Sabtu, 07/08/2002 - Jakarta, Untuk pertama kalinya setelah bangkrutnya PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR) meledak, Tosari Wijaya tampil di muka umum. Dia menyatakan siap mengembalikan dana partai Rp 5 miliar yang nyemplung di QSAR. "Kalau perlu jual celana kolor," sesumbarnya agak emosional.
Hal itu diungkapan salah satu ketua DPP PPP ini pada wartawan sebelum pembukaan "Konsultasi Nasional RUU Bidang Politik PPP" di Ruang Rose I-II, Hotel Acacia, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (7/9/2002) pukul 16.20 WIB. Tosari banyak menjawab dengan nada tinggi dan terus berusaha menghindar. Ini merupakan wawancara pertama wartawan dengan wakil ketua DPR ini.
Berikut wawancara singkat wartawan dengan Tosari Wijaya:
“Bagaimana investasi dana PPP ke PT QSAR?”
“Duduk persoalannya adalah seperti yang saudara baca di koran. Kalau sudah (diberitakan) apalagi? Sampeyan baca koran nggak? Ikut (nonton) TV nggak? Dana partai sudah selamat. Jadi, tujuan investasi itu memang cari untung.”
“Kenapa dana partai yang dipakai?”
“Lho, memang untuk partai. Soal QSAR yang sekarang bangkrut, itu urusan saya dengan partai. Bukan urusan Saudara. Saya sudah klarifikasi dengan ketua umum. Dan ketua umum membenarkan.”
“Bagaimana dengan Tim Penyelemat Dana bentukan Kolima?”
“Saya nggak dengar adanya Kolima. Saya memang harus mengembalikan dana itu. Dan tidak perlu kesepakatan. Sebab hal itu merupakan tanggung jawab saya.”
“Jadi Bapak sanggup mengembalikan dana itu?”
“Sanggup! Kenapa tidak! Pemimpin mesti sanggup dong. Kalau perlu jual celana kolor, itu merupakan urusan saya. Siapa mau beli?”
Bagaimana kelajutan cerita dana Partai Persatuan Pembangunan, beritanya tidak keluar ke publik. Angka Rp 5 milyar itu banyak sekali, dalam arti orang yang memilikinya pasti harus kaya. Karena Rp 5 milyar pada masa itu adalah setara dengan 50 kg emas. Sangat menarik jika kekayaan Tosari Wijaya diaudit, untuk melihat bagaimana ia dibangkrutkan oleh QSAR dan bagaimana kiatnya (Tosari Wijaya) membangun kembali kekayaannya.

Terlibatnya petinggi dan politikus terkemuka negri ini dalam kasus QSAR punya hikmah yang tidak pernah bisa dijadikan pelajaran. Dalam sistem demokrasi, rakyat memilih para wakilnya untuk mewujudkan kemakmuran. Rakyat berpikir bahwa para politikus, petinggi negara ini punya kelebihan otak dan akal serta pengetahuan untuk memakmurkan mereka. Kalau yang dipilih sama setara dengan yang memilih, untuk apa negara ini diselenggarakan? Sayangnya, sejarah berkali-kali membuktikan bahwa para petinggi negara, politikus tidak lebih cerdik dalam hal mencari kemakmuran. Mereka masih tidak bisa membedakan antara bisnis riil dan penipuan. Dan......., ironisnya setiap 5 tahun rakyat beramai-ramai memilih anggota DPR termasuk ketuanya yang nota bene pernah tertipu oleh penipu seperti Ramli Araby. Memang manusia tidak bisa belajar.

PUMP & DUMP
Ada suatu lelucon mengenai musim dingin dan orang Indian. Ceritanya sebagai berikut. Pada suatu hari di awal musim gugur, seorang kepala suku Indian dari sebuah perkampungan (reservasi) Indian dengan sembunyi-sembunyi menelpon badan meteorologi untuk menanyakan prakiraan cuaca di musim dingin mendatang. Sebagai kepala suku, ia ingin agar rakyatnya bisa bersiap sedia menghadapi musim dingin mendatang. Sebagai orang yang sudah agak modern, dia tidak lagi mengandalkan teknik-teknik klenik, walaupun upacaranya masih dilakukannya.
Oleh badan meteorologi, ia diberitahu bahwa musim dingin yang mendatang akan seperti biasanya, normal. Sebagai kepala suku yang bijak dia mengatakan kepada rakyatnya bahwa musim dingin yang akan datang akan sedikit lebih berat dibandingkan biasanya. Oleh sebab itu dia menganjurkan rakyatnya untuk mengumpulkan kayu bakar yang agak lebih banyak, karena musim dingin yang akan dihadapi mereka akan berat.
Sebulan menjelang musim dingin, ia menghubungi kembali badan meteorologi untuk menanyakan apakah ada perubahan dalam prakiraan cuaca musim dingin mendatang. Ternyata memang benar, bahwa musim dingin yang akan datang kemungkinan lebih menggigit dibanding biasanya. Maka dengan segera dia memerintahkan rakyatnya untuk mengumpulkan kayu yang lebih banyak lagi, karena musim dingin yang akan dihadapi mereka akan sangat berat.
Beberapa hari kemudian, dia menelpon lagi ke badan meteorologi untuk memastikan prakiraan musim dingin yang diperolehnya beberapa hari lalu. Ia memperoleh jawaban yang cukup mengejutkan, bahwa musim dingin mendatang akan sangat parah. Dengan data itu ia memerintahkan kepada anak-anak, orang tua, wanita, semua anggota sukunya untuk mengumpulkan kayu bakar.
Besok lusanya dia kembali menelpon badan meteorologi untuk menanyakan hal yang sama. Dia memperoleh jawaban yang sangat mengejutkan:
“Musim dingin yang akan datang pasti sangat buruk. Mungkin terburuk yang pernah ada. Lihat saja, orang-orang Indian mengumpulkan kayu bakar seperti kesetanan!!!”
Ternyata badan meteorologi selama ini menggunakan aktifitas orang Indian mengumpulkan kayu untuk meramalkan parah-tidaknya musim dingin.
Hikmah dari cerita ialah bahwa kita sering tidak menyadari informasi yang kita peroleh sebenarnya berasal dari diri kita sendiri dan tanpa disadari telah menjadi umpan balik. Umpan balik ini bisa memperkuat asumsi.
Isilah pump & dump dikenal di bursa saham. Biasanya dilakukan oleh seseorang yang memiliki suatu saham dalam jumlah yang besar dan ingin menjualnya di harga tinggi. Langkah awal yang dilakukannya ialah menyebarkan gosip dan berita positif. Akibat gosip itu animo membeli saham tersebut meningkat dan harganya mulai menanjak. Respons yang demikian membuat orang tadinya ragu mulai berpikir bahwa gosip itu ada kemungkinan benar, lalu dia ikut membeli. Demikian seterusnya sampai harganya membumbung. Sementara itu si penyebar gosip melakukan aksi jual. Harga bisa terus naik karena spekulan ikut serta sampai akhirnya kehabisan pembeli. Volume perdagangan saham itu turun kembali dan harga saham itu juga mulai turun. Aksi jual spekulan membuat saham anjlok dan akhirnya hingar-bingar di saham itu mati dan harga saham kembali ke tempat semula. Yang beli di harga tinggi terpaksa harus gigit jari.
Pola-pola pengelabuhan seperti ini akan kita bahas pada bagian berikut ini.

Bisnis Bunga Anthorium, Peternakan Cacing dan Ikan Lohan
Seorang teman sering mengeritik saya, berkenaan dengan aktifitas investasi saya di sektor saham, emas, derivatives product dan pasar uang. Katanya sektor yang saya geluti bukan sektor riil yang menciptakan lapangan pekerjaan. Dia memberi contoh mengenai sektor riil yang sedang dia geluti, yaitu menanam pohon anthorium (kejadiannya di tahun 2006 – 2008). Dia membeli bibitnya, untuk dibesarkan. Rencananya kalau sudah besar akan bisa dijual dengan harga yang lebih mahal. Barangnya riil dan bisa disentuh, yaitu pohon itu sendiri. Jenis yang disukainya adalah gelombang cinta. Dia juga memberi lowongan kerja bagi tukang kebun yang merawat pohonnya.
Pada saat itu valuasi (penilaian harga) pohon ini berdasarkan jumlah daunnya. Harga tertinggi yang pernah dicapai adalah Rp 500.000 per daun. Artinya jika sebuah pohon mempunyai 10 helai daun, maka harganya Rp 5 juta (10 x Rp 500.000). Ini adalah harga di puncak mania dimana orang mengalami waham-massal-sementara dan menyangka valuasi harga anthorium akan terus naik sampai tak terhingga. Harga per pohon anthorium gelombang cinta dikabarkan bisa mencapai Rp 30 juta. Catatan: gaji seorang pembantu di Jakarta, waktu itu sekitar Rp 300.000 per bulan. Dengan kata lain harga pohon gelombang cinta itu bisa mencapai 100 kali gaji bulanan seorang pembantu. Diukur dengan makanan, harga sepiring nasi campur dengan lauk ayam (ikan), sayur dan minum teh manis adalah Rp 10.000. Ini artinya pohon hias anthorium gelombang cinta itu nilainya sama dengan 3.000 porsi makan siang. Wow!!! Itu namanya mania.
Saya pernah menanyakan, kemana nantinya akan dijual kalau pohon-pohon itu sudah besar? Dia mengatakan bahwa akan banyak yang menampung, sambil menunjukkan majalah hobby Trubus. Disitu memang ada artikel mengenai anthorium dengan kasus-kasus suksesnya. Tetapi saya tidak bisa melihat besarnya potensi pasar dari anthorium. Skeptis. Seperti pada kasus Ponzi dimana jumlah IRC yang beredar tidak bisa menunjang bisnis IRC Ponzi, demikian juga jumlah penggemar anthorium tidak akan pernah bisa menyamai jumlah antorium yang akan beredar.
Teman saya mengeluarkan banyak modal untuk membeli anthorium anakan dan merawatnya. Sampai akhirnya pohon-pohon itu besar serta siap untuk dijual. Dan pembelinya.....? Tidak ada. Tidak ada yang mau membelinya.
Kasus anthorium bukan satu-satunya kasus yang pernah muncul. Di awal dekade 2000an, sekitar tahun 1999 – 2000, yang sedang naik daun adalah bisnis cacing. Dan tahun 2005 – 2006 adalahvirgin coconut oil. Kemudian disusul dengan bisnis ikan lohan dan lobster air tawar.
Cerita lain adalah mengenai bisnis peternakan cacing terjadi di awal dekade 2000an. Di sekitar tahun 1999 – 2001, pada periode depressi akibat krisis moneter 1997, Indonesia (baca: Jawa) disibukkan dengan bisnis cacing. Awalnya, katanya, untuk makanan ikan hias seperti ikan arwana. Kemudian gossipnya berkembang, menjadi peruntukan jamu. Bahkan cerita itu kemudian berkembang menjadi peruntukan burger – cacing burger!!! Siapa yang mau makan cicing burger selama burger sapi masih ada?
Pada periode manianya, sering dijumpai iklan mengenai cacing di majalah Trubus; dari mulai penjual bibit, kursus pemeliharaan cacing, artikel-artikel mengenai cacing dan lain-lainnya. Untuk saya hingar-bingar cacing ini nampak absurd.
Kasus cacing ini banyak memakan korban, salah satunya adalah tetangga saya dan saudara saya. Mereka membeli bibit cacingnya, membuat tempat pemeliharaannya dan merawatnya. Ketika sampai pada ukuran panen........., tidak tahu kemana menjualnya, karena memang tidak ada yang mau beli. Kerugian menimpa. Saudara saya menghabiskan sekitar Rp 15 juta. Dalam ukuran uang sejati, yaitu emas, kira-kira 150 gram. Dalam ukuran harga kambing, kira-kira setara dengan 45 ekor kambing. Atau dalam ukuran porsi makan siang – nasi dengan lauk ayam dan sayur serta minum teh manis, kira-kira 2200 porsi. Kerugian yang cukup lumayan.
Kasus seperti ini tidak pernah masuk ke meja hijau. Karena secara hukum tidak memenuhi unsur pidana dan tidak pernah masuk ke penyidikan polisi. Kalau saja senandainya pernah masuk ke penyidikan polisi, modus operandi dan kejadian yang sebenarnya bisa terungkap. Oleh sebab itu kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pengetahuan kita hanya terbatas pada hipotesa. Inilah usaha yang paling jauh untuk mengerti kasus bisnis anthorium, cacing, jangkrik, virgin coconut oil, ikan lohan dan sejenisnya, hanyalah melalui hipotesis. Beginilah hipotesisnya:
Kemungkinan kejadiannya dimulai dari seseorang yang memiliki stok barang, apakah itu anthorium, ikan lohan, cacing atau apa saja. Ia memulai langkah pertama untuk mempopulerkan barang dagangannya dengan ikut pameran. Mungkin beberapa kali, sampai memperoleh perhatian dari pengamat hobby di suatu majalah. Bahkan kalau perlu membuat iklan di majalah hobby sepertiTrubus, atau membuat tulisan yang menarik berserta foto-fotonya sehingga memperoleh perhatian baik dari pembacanya dan juga redaksinya.
Ketika sudah memperoleh perhatian, pembeli mulai muncul. Pembeli ini bukan dari kalangan konsumen, tetapi dari kalangan orang yang punya tabungan dan ingin menerjuni bisnis ini. Iklan menjual bibit cacing, menjual anthorium, menjual bibit ini dan itu, pelatihan pemeliharaan cacing, ikan lohan, lobster air tawar, dan lain sejenisnya bermunculan. Dari kacamata pengamat (dan penulis kolom majalah), hal ini dianggap sebagai banyaknya permintaan atas barang tersebut (cacing, anthorium, ikan lohan, lobster air tawar, dsb). Maka tulisannya di kolom majalah semakin panas. Dan ini diresponse oleh pebisnis dengan iklan, pengadaan pameran, dan promosi lagi agar bisa menangkap sebagian pangsa pasar. Ini umpan balik yang makin menguatkan bak cerita mengenai Indian, badan meteorologi dan musim dingin di atas. Kebenaran akan terkuak ketika cacing sudah besar, anthorium sudah memenuhi halaman, akuarium dan kolam penuh dengan ikan lohan dan lobster air tawar. Pembeli tidak kunjung datang. Semua mau menjual, termasuk, agen penjual bibitnya. Mania selesai dan semua rugi kecuali yang pertama terjun ke bisnis ini, yaitu para penjual bibit, penyelenggara pameran, penyelenggara kursus ketrampilannya dan ......majalah hobby tersebut.
Informasi dari seorang kolega yang terjerumus ke bisnis lobster air tawar, mengatakan bahwa tahun 2010 biaya untuk kursus pemeliharaan lobster air tawar biayanya sekitar Rp 500.000 dan untuk membeli indukannya Rp 500.000 per set, 5 ekor betina dan 3 ekor jantan. Harga ini sudah naik dari Rp 350.000 di tahun 2004. Di tempat yang sama, bisa dibeli perangkat kursus seperti video, DVD dan juga pakan untuk lobster. Orang yang mengadakan kursus ini masih sama. Dialah yang diuntungkan dalam hiruk-pikuk bisnis lobster air tawar ini.
Apa ini bisa dijerat delik penipuan? Saya meragukan. Ini hanyalah perdagangan biasa. Calon investor (calon korban) membeli bibit anthorium atau indukan cacing, atau indukan lobster air tawar, atau sejenisnya. Tentu saja penjualnya dengan suka hati menjualnya. Memberi kursus (yang tentunya bayar). Tetapi kemudian, apakah orang-orang yang telah menghabiskan uangnya merasa tertipu? Sangat mungkin. Paling tidak merasa diakali. Karena setelah dikembang biakkan dan hasilnya mau dijual kembali ternyata permintaan tidak ada. Pasarnya sangat terbatas. Anehnya, ada orang yang kena perangkap seperti ini berkali-kali. Seingat saya, tetangga saya itu kena kasus palem raja lalu kemudian kasus cacing. Kenapa bisa demikian? Tidak lain karena mereka tidak skeptis dan tidak kritis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar