Semua tulisan di blog ini

Semua tulisan di blog ini
Semua tulisan di blog ini bukan menganjurkan untuk membeli/menjual saham/obyek trading Anda, Semua keputusan ada di tangan Anda karena itu berhati-hatilah dalam melakukan trading dan investasi.

Rabu, 03 Juli 2013

OUTLOOK US & GLOBAL 3 JULI 2013


• Dolar AS menembus level tertinggi 1 bulan terhadap yen dan euro pada hari Selasa sementara barometer untuk ekuitas global jatuh menyusul bursa saham AS membalik keuntungannya dan berakhir melemah tipis.
• Wall Street melemah dalam kondisi perdagangan yang fluktuatif, sebagian besar disebabkan melemahnya saham sektor industri seiring dengan indeks S&P 500 yang sekali lagi kehilangan kekuatan setelah menembus level MA‐50. S&P gagal ditutup di atas area MA‐50 sejak berakhir di bawah area tersebut pada 20 Juni.
• Perdagangan nampaknya akan berlanjut dalam kisaran sempit sepanjang pekan ini, dengan pasar AS tutup lebih awal di hari Rabu dan akan tutup sepenuhnya di hari Kamis berkenaan dengan Hari Kemerdekaan AS . volume yang rendah dapat berakibat tingginya volatilitas, khususnya pada saat rilis data non‐farm payrolls AS pada hari Jumat.
 Dow Jones industrial average <.DJI> turun 42,55 poin atau 0,28% di 14932,41, sedangkan indeks S&P 500 <.SPX> kehilangan 0,88 poin atau 0,05% untuk ditutup di 1614,08 dan Nasdaq Composite <.IXIC> terkoreksi 1,09 poin atau 0,03% ke 3433,4. Adapun level intraday high S&P berada di 1624,26, sedikit di atas area MA‐50 di 1623,94.
• Indeks bursa saham global dalam MSCI turun 0,2%.
• Dolar menembus level tertinggi 1 bulan terhadap yen di 100,72 yen dan naik mendekati posisi puncak 5 minggu terhadap sejumlah rival utamanya dipicu ekspektasi data pekerjaan AS yang akan dirilis hari Jumat akan memperbesar peluang The Fed untuk mengurangi program stimulus moneternya lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.
• Komentar dari sejumlah petinggi bank sentral AS belakangan ini telah memunculkan beragam pertanyaan di kalangan pelaku pasar mengenai kapan kiranya The Fed akan mengurangi program pembelian obligasi senilai $85 milyar perbulan. Program tersebut yang dikenal dengan sebutan quantitative easing (QE) atau pelonggaran kuantitatif, telah menjadi instrumen yang memicu kenaikan bursa saham dan menjaga suku bunga tetap paa level terendahnya sepanjang sejarah, sementara memicu tekanan jual pada dolar.
• Sementara itu, Kepala Federal Reserve Bank of New York mengulang komentarnya yang telah dibuat pekan lalu bahwa bank sentral AS nampaknya akan melanjutkan dukungannya untuk pemulihan ekonomi meskipun pasar khawatir terhadap kemungkinan pengurangan stimulus dalam waktu dekat.
• Pelemahan yen telah membantu mengangkat indeks Nikkei untuk ditutup menguat 1,8%, di atas level 14000 untuk pertama kalinya dalam 5 pekan, menyusul naiknya saham ekspor. Nikkei berjangka yang berdenominasi dolar naik 1,9%, melanjutkan apresiasinya dalam 4 sesi terakhir ke 8,9%.
• Euro merosot 0,7% ke $1,2975 dan menembus level terendah $1,2962 yang merupakan level terendahnya sejak awal Juni.
• Harga Treasury AS bergerak relatif stabil setelah investor cenderung menahan diri menjelang libur pasar AS dan data pekerjaan di hari Jumat. Treasury tenor 10 tahun naik 2/32 dengan yield 2,4711 persen. Suku bunga di sejumlah Treasury berbalik negatif setelah investor cenderung untuk memegang dana tunai untuk menghindari perdagangan yang fluktuatif akibat rilis data pekerjaan AS di hari Jumat.
• Dengan Yunani akan membayar kembali obligasi senilai 2,2 milyar euro di bulan Agustus, maka yield obligasi Yunani tenor 10 tahun naik 14 basis poin di 11,18 persen.
• Sementara yield obligasi Portugal melebar 22 basis poin menjadi 6,62 persen setelah menteri keuangan dan luar negeri mundur secara bergantian.
• Dalam perdagangan komoditas, harga minyak Brent naik mendekati $104 per barel, melanjutkan apresiasinya dalam 2 hari berturut‐turut akibat kekhawatiran terhambatnya suplai di Timur Tengah dan Afrika sementara harga minyak mentah AS naik 1,6% ke $99,45 setelah menembus level tertingginya sejak September.
• Tembaga terkoreksi dari level tertinggi sekitar 2 pekan dipicu menguatnya dolar dan investor masih ragu terhadap prospek ekonomi dari negara konsumen logam ternama, China. Three‐month copper <CMCU3> melemah 0,7% ke $6907 per ton, sebagian membalik rally sesi sebelumnya yang mencapai 3,4%.
(vaf)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar