Semua tulisan di blog ini

Semua tulisan di blog ini
Semua tulisan di blog ini bukan menganjurkan untuk membeli/menjual saham/obyek trading Anda, Semua keputusan ada di tangan Anda karena itu berhati-hatilah dalam melakukan trading dan investasi.

Senin, 19 Maret 2012

OUTLOOK US & GLOBAL 19 MARET 2012


• Bursa global menguat pada hari Jumat, dipicu menguatnya ekuitas AS mendekati level tertinggi 4 tahun setelah laporan mengenai melemahnya inflasi kian menambah sentimen negatif dan memicu melemahnya pasar obligasi pemerintah. Sementara Standard & Poor's 500 index naik untuk 5 pekan berturut‐turut, mencatat kenaikan 2.4% untuk kinerja mingguan terbaiknya sejak medio Desember, indeks Dow dan Nasdaq justru jatuh pada hari Jumat akibat sikap hati‐hati investor pasca rally indeks belakangan ini.
• Sebuah laporan yang menunjukkan melemahnya inflasi di AS di bulan Februari telah mengurangi pandangan hawkish mengenai suku bunga, sehingga memicu melemahnya dolar. Membaiknya data ekonomi AS belakangan ini telah memicu spekulasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari jangka waktunya di akhir 2014. Namun dengan rilis data CPI di akhir pekan kemarin telah melemahkan spekulasi kenaikan suku bunga tersebut.
• Sebagian besar saham AS hampir mencapai titik impas, dengan S&P 500 Index bertahan di atas 1400 yang dicapai di awal pekan yang untuk pertama kalinya sejak 2008. Rally yang terjadi hampir 30% dari low Okotber untuk S&P telah memicu rasa penasaran investor untuk melihat kenaikan lanjutan pada laporan laba perusahaan. Dow Jones industrial average <.DJI> berakhir melemah 20.14 poin atau 0.15% di 13,232.62. Sedangkan Standard & Poor's 500 Index <.SPX> bertambah 1.57 poin atau 0.11% ke 1,404.17. Sementara Nasdaq Composite Index <.IXIC> turun 1.11 poin atau 0.04% di 3,055.26.
• Bursa global melejit ditopang oleh data ekspor Eropa periode Januari yang melonjak naik diluar dugaan serta data ekonomi AS.
• Indeks harga konsumen (CPI) AS naik 0.4% di bulan Februari setelah mencatat kenaikan 0.2% di bulan Januari sebelumnya, dimana kenaikan harga bensin memberikan kontribusi sebesar 80% atas naiknya inflasi tersebut. Data lain menunjukkan adanya peningkatan pada factory output di bulan lalu, meskipun terjadi penurunan pada produksi
otomotif. Namun demikian, industrial output secara umum flat (0%), terganjal oleh penurunan bulanan kedua secara berturut‐turut pada aktifitas pertambangan.
• Di Eropa, meningkatnya ekspor Jerman telah membantu zona euro memangkas defisit perdagangannya lebih dari separuh menjadi 7.6 milyar euro di bulan Januari dari tahun sebelumnya, demikian dilaporkan biro statistik Uni Eropa, Eurostat. MSCI world equity index <.MIWD00000PUS> naik 0.4% sementara FTSE Eurofirst 300 <.FTEU3> index naik
0.4% dan ditutup di 1,106.79. Bursa Eropa telah menguat dalam 4 hari berturut‐turut dan menembus level tertinggi sejak sebelum kejatuhan pasar di akhir Juli tahun lalu.
• Euro menguat 0.7% terhadap dolar ke $1.3173, sementara indeks dolar turun 0.5% di 79.777. Harga obligasi pemerintah AS turun, dengan Treasury tenor 30 tahun turun 1/32 poin dengan yield 3.41%, sedangkan untuk tenor 10 tahun turun 5/32 dengan yield 2.30%.
• Harga minyak mentah Brent naik di atas $125 per barel menyusul perhatian pada terbatasnya ekspor minyak Iran. Minyak Brent untuk pengiriman Mei naik $3.21 di $125.81 per barel. Sedangkan kontrak minyak mentah AS pengiriman April naik $1.95 di $107.06 per barel.
• Emas turun, mencatat penurunan mingguan tertajamnya dalam 3 bulan, setelah India mengatakan akan menggandakan pajak impor logam mulia dan positifnya data ekonomi
AS telah mendorong optimisme pada ekonomi global, sehingga menambah minat pada aset‐aset beresiko. Harga emas spot turun 99 sen ke $1,656.70 per ounce.
• Musim Semi yang secara resmi dimulai pada 20 Maret adalah “udara” bagi pasar keuangan, dimana saat itu likuiditas melimpah dan merangsang investor untuk meningkatkan investasi. Namun pasar nampaknya akan menunggu untuk melihat perkembangan kesehatan ekonomi di Cina dan zona euro dalam beberapa hari kedepan. Disamping data purchasing managers (PMI), pasar juga akan mencermati data perumahan AS, inflasi di Inggris dan Jerman serta data perdagangan Jepang.
(vaf)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar